Lagi-lagi
kita dibuat bingung hanya karna sebuah permainan yang kita ciptakan sendiri. “Hidup
ini tak ubahnya sebuah permainan, jikalau kita tak pandai untuk memainkanya,
maka kita sendiri yang akan dipermainkan” begitulah menurut salah satu
sastrawan yang mempunyai inisial Kang Dzun. Hidup di dunia ini memang tak perlu
“neko-neko”. Karna memang kita di dunia ini hanya sementara. Kehidupan yang
abadi dan kekal hanya akan kita dapatkan ketika kita sudah masuk pada alam
akhirat. Antara surga dan neraka. Namun jika kita fikir ulang dan lebih dewasa.
Sejenak kita akan dapatkan kesimpulan bahwa sangatlah disayangkan jikalau pada
saat kita numpang di dunia ini tidak kita manfaatkan dengan baik. “Hidup di
dunia ini layaknya menanam untuk kita diakhirat” “Ad-Dunya Mazro’atul Akhirat” begitulah
pepatah arab berkata.
Semua yang kita lakukan di dunia ini akan menghasilkan buah di akhirat kelak. Entah itu manis atau pahit semuanya tergantung saat kita hidup di dunia. Ketika masa hidup kita hanya kita gunakan hanya untuk mencari dunia saja, kitapun akan celaka di akhirat kelak. Namun sebaliknya, hal perlu kita perhatikan adalah keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Dalam kitab sucinya Allah telah bertitah “sesungguhnya aku menciptakan manusia dan jin tak lain hanyalah untuk beribadah kepadaku”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) “ibadah” berarti “perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT. Yang dengan dasaran menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganya”. Dari sini dapat diambil benang merah bahwa dalam menjalani dan meniti lembar-lembar kehidupan ini hanyalah karna Allah semata. Apapun yang kita lakukan di dunia ini, hanyalah sebuah penitian hati untuk dapatkan ridlo Ilahi. Banyak jalan yang ditawarkan oleh kehidupan untuk dapat merealisasikan hal tersebut. Mulai dari jalan gelap, sempit, berbatu, mulus, ataupun yang lainya. Berbagai macam rintangan juga tak mau kalah untuk senantiasa mendampingi kita dalam setiap langkah. Namun semua itu hanyalah akan kembali pada satu tujuan yaitu Ridlonya. Maka dari itulah, perlu sebuah bekal yang kiranya tak “main-main” untuk menghadapi lika-liku kehidupan ini. Sebuah bekal kehidupan dapat kita dapatkan dari berbagai macam sumber. Mulai dari jasmani kita yang haus akan pengetahuan, dan batin kita yang selalu mengemis akan kasih sayang sang pecipta.
Semua yang kita lakukan di dunia ini akan menghasilkan buah di akhirat kelak. Entah itu manis atau pahit semuanya tergantung saat kita hidup di dunia. Ketika masa hidup kita hanya kita gunakan hanya untuk mencari dunia saja, kitapun akan celaka di akhirat kelak. Namun sebaliknya, hal perlu kita perhatikan adalah keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Dalam kitab sucinya Allah telah bertitah “sesungguhnya aku menciptakan manusia dan jin tak lain hanyalah untuk beribadah kepadaku”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) “ibadah” berarti “perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT. Yang dengan dasaran menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganya”. Dari sini dapat diambil benang merah bahwa dalam menjalani dan meniti lembar-lembar kehidupan ini hanyalah karna Allah semata. Apapun yang kita lakukan di dunia ini, hanyalah sebuah penitian hati untuk dapatkan ridlo Ilahi. Banyak jalan yang ditawarkan oleh kehidupan untuk dapat merealisasikan hal tersebut. Mulai dari jalan gelap, sempit, berbatu, mulus, ataupun yang lainya. Berbagai macam rintangan juga tak mau kalah untuk senantiasa mendampingi kita dalam setiap langkah. Namun semua itu hanyalah akan kembali pada satu tujuan yaitu Ridlonya. Maka dari itulah, perlu sebuah bekal yang kiranya tak “main-main” untuk menghadapi lika-liku kehidupan ini. Sebuah bekal kehidupan dapat kita dapatkan dari berbagai macam sumber. Mulai dari jasmani kita yang haus akan pengetahuan, dan batin kita yang selalu mengemis akan kasih sayang sang pecipta.
Berbagai
macam pengetahuan telah beredar luas di sekeliling kita. Pengetahuan dapat kita
dapatkan dengan berbagai macam cara. Dan yang paling sering kita temui saat ini
adalah dengan “Belajar”. Belajar adalah
sebuah cara atau jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Sebuah contoh kongkrit
dapat kita dapatkan dari “Belajar disekolah” yang ini sudah hamper menjadi
kewajiban bagi setiap orang yang hidup di dunia ini. Dengan sekolah kita akan
mendapatkan “ilmu” yang itu berarti “pengetahuan”. Dilengkapi dengan fasilitas
seorang Guru kita akan dapatkan pengetahuan yang efektif di dalam sekolah.
Sekolah juga menyediakan berbagai macam hal yang akan lebih gampang mengenalkan
kita pada sebuah pengetahuan. Tapi perlu diketahui bahwa belajar tidak harus
dengan hadirnya seorang guru ditengah-tengah kita. Atau dengan fasilitas atau
sarana yang memadai untuk mendapatkan sebuah pengetahuan. Kita bisa belajar
dari segala hal, apapun, kapanpun, dan dimanapun, bahkan pada siapapun yang
kita temukan dalam perjalanan kehidupan kita. Tak harus dengan guru yang
pintar, atau harus belajar disekolah dan lain-lain. Asalkan kita mau untuk
merendahkan diri kita dan menganggap bahwa kita bukanlah apa-apa dibanding
mereka. Kita bisa belajar dari sebuah
air yang tenang, rumput yang bergoyang, belajar dari seekor semut, bahkan
sebuah pelajaran itu dapat kita ambil dari sosok syetan yang selalu istiqomah
menggoda kita disetiap hembusan nafas kita. Asalkan itu tadi, kita harus
menganggap diri kita lemah didepan mereka. Anggap kita belum tahu apa-apa. Dan
kita akan dapat belajar dari apa yang mereka lakukan. Tak perlu diragukan lagi
jikalau nantinya kita akan bisa dapatkan bergabai macam hal yang akan menjadi
bekal kita dalam mengarungi samudra kehidupan ini.
Sejalan
dengan itu, perlu bagi kita untuk selalu mengimbangi itu semua dengan tanpa
menafikan kehadiran Allah disepanjang perjalanan kita menempuh kehidupan ini.
Kita tak bisa hanya mengandalkan bekal pengetahuan sebagai tolak ukur hidup di
dunia ini. Seperti yang telah penulis katakan diatas, bahwa kita diciptakan
oleh allah hanya untuk beribadah kepadanya semata. Hal ini tidak akan bisa
didapatkan hanya dengan ilmu dunia yang kita dapatkan dari belajar. Namun perlu juga dibarengi dengan peng-abdi-an kita
kepada allah. Selau menunaikan segala hal yang beliau titahkan pada kita. Tidak
akan menjalankan setiap larangan yang telah beliau jelaskan kepada kita
ciptaanya. Allah telah menurunkan Agama Islam yang sebagai Rahmatan lil’alamin.
Islam mempunyai lima tiang yang harus ditegakkan. Dan enam dharma yang harus
kita saksikan. Memang Allah tidak membutuhkan kita untuk membelanya. Namun
sebenarnya kitalah yang harus ber ikrar bahwa kita sebagi makhluknya senantiasa
membutuhkan beliau. Karna hanya beliaulah yang dapat dengan mudah menjadikan
sesuatu yang mustahil menjadi hal yang nyata dan patut untuk dipercayai.
Beliaulah satu-satunya tempat kita untuk mengadu. Yang dapat memberikan kita
solusi dalam setiap langkah kita untuk menuju ridlonya. Maka dari itulah kita
tak boleh lepas dari memohon dan selalu beridabah kepadanya. Karna dengan
dibarengi hati yang selalu bertawakkal dan berdo’a kepada beliau, kita akan
selalu dimudahkan dalam menghadapi batu-batu terjal kehidupan.
Sebagai
makhluk social kita tidak akan bisa hidup didunia sendirian. Dengan dikelilingi
beberapa makhluk ciptaan tuhan, kita dapat hidup dengan layak. saling
melengkapi satu sama lain, tanpa ada yang tersingkirkan. Memang ini adalah
ujian bagi kita untuk saling menghargai dan melengkapi sesama makhluk hidup.
Apalagi sesama manusia. Ini adalah sebuah karunia yang sangat patut untuk
disyukuri karna memang merupakan sebuah keajaiban yang nyata. Bayangkan, allah
menciptakan para makhluknya dengan bentuk, ukuran tubuh, ukuran hati dan masih
banyak perbedaan sifat dan watak yang lain. Namun kita masih tetap bisa
menghargai satu sama lain. Wajarlah kalau kadang-kadang kita temukan beberaa
dari kita yang tidak kuasa untuk membendung emosinya hingga terjadilah hal-hal
yang tidak diinginkan. Seperti tawuran, perseteruan antar umat beragama atau
suku satu dengan suku lain. Dan masih banyak lagi. Maka dari itu, semua yang
terjadi pada kita, kerukunan sesame makhluk harus disyukuri dengan sangat.
Ketika kita sudah dapat bersyukur niscaya kita akan tahu makna kehidupan ini./MaSyf

