Kepalan
tinju dan benda-benda tajam melayang membabi buta. Membentur kulit dan daging
yang empuk. Tak jarang pukulan-pukulan tersebut hanya menabrak angin hampa.
Putih abu-abu mereka kenakan layaknya baju Zirah zaman Yunani kuno. Dan
akhirnya hanya berakhir dengan Darah, Borgol, dan kantor polosi. Mungkin juga
hanya menjadikan mereka terkurung di balik Jeruji besi. Alih-alih putih abu-abu
lah yang jadi korban.
Ya.., Tawuran,
hal yang kerap dikakukan oler para remaja yang kebanyakan masih menyandang
status Siswa.tak heran jikalau sekarang putih abu-abu sering menjadi sorotan
media masa. Tak hanya taeuran remaja yang menjadi sorotan, namun
kenakalan-kenakalan para remaja yang sekarang semakin melonjak kini menjadikan
halaman-halaman di Koran maupun surat kabar lainya penuh dengan warna-warni
putih abu-abu. Kenakalan yang kini semakin menjadi-jadi di kalangan remaja usia
putih abu-abu membuat para guru khawatir akan terjerumusnya siswa-siswi pada
setiap sekolah SMA sederajat. Se-rel dengan itu juga, membuat sekolah-sekolah
yang ada semakin memperketat keamanan didalam maupun diluar jam pelajaran.
Banyak factor-faktor yang menyebabkan kenakalan para siswa ini semakin
melonjak. Salah satunya adalah karna factor pergaulan yang terlalu bebas,
kondisi lapnagan yang mendukung, dan jikalua diteliti lagi yang paling urjen
adalah mengenai masa dan usia. Lantas, kenapa harus pada usia putih abu-abu?
Sebelum melangakah untuk menyelidiki
pertanyaan diatas, mari sedikit kita tengok tentang kontens yang ada pada kata
Putih Abu-abu. Putih Abu-abu sendiri adalah nama lain atau bisa dikatakan islital
gaul untuk para remaja atau ABG yang masih menyandang predikat Sebagai siswa
SMA sederajat. Dua kata ini diserap dari seragam khas SMA sederajat yang
dikenakan ketika menuntut ilmu di sekolah. Meskipun dalam satu sekolah
mempunyai seragam lain selain putih abu-abu, namun warna inilah yang identik
dan menjadi identitas disetiap sekolah SMA sederajat.hal ini dapat diketahui
ketika kita mengikuti kegiatan diluar. Yang pesertanya adalah siswa SMA
sederajat. Hampir semuanya mengenakan seragam ini. Dan dari itulah kenapa putih
abu-abu semakin melekat dan menjadi identitas para siswa SMA sederajat. Seperti
yang telah kita ketahui bersama, para siswa sma kebanyakan telah menyandang
usia antara 15 hingga 17 tahun. Dan dimasa inilah merupakan pencarian jati diri
dan pengembangan jiwa semakin memuncak. pada usia ini semua remaja dituntut
untuk lebih aktif dalam meaknai kehidupan mereka masing-masing. Terdapat
korelasi apakah antara hal ini dan pertanyaan di atas?
Kenakalan-kenakalan yang dialami
oleh para remaja adalah sebuah efek samping dalam pencapaian umur mereka yang
dini. Ini adalah sebagai pengapreasian diri mereka terhadap kehidupan.
Rata-rata pada usia yang mulai menginjak dewasa atau puber, banyak sekali
keinginan yang terlintas dalam benak para remaja. Dan hal ini perl untuk mereka
aplikasikan. Namun, itu semua tergantung dari cara untuk mengaplikasikan
keinginan tersebut. Kadang jikalau semua itu dibarengi dengan fikiran dan
perilaku yang positif maka akan menghasilkan hal yang positif juga. dalam
sebuah Koran ataupun surat kabar lainya, tak jarang kita temukan tentang
prestasi-prestasi para siswa SMA sederajat yang hadir dengan penemuan-penemuan
baru mereka. Seperti halnya membuat robot mini, kemudian banyak lagi penemuan
dan experiment-experiment baru yang dapat diciptakan oleh para siswa tersebut.
ataupun hanya sekedar menjadi juara dalam sebuah ajang lomba tingkat nasional,
Dan lain sebagainya. Itu semua merupakan buah hasil dari pemikiran dan
imajinasi para siswa yang dibarengi dengan pola fikr dan perilaku yang positif.
Namun sebaliknya, jikalau kita tidak dapat mengontrol diri dan tergoda oleh
nafsu yang semakin giat menggoda kita, maka bisa jadi kita akan ikut-ikutan
mereka yang dengan tanpa fikir panjang merelakan tubuh dan fikiran mereka
terjerat dan terjebak dalam permainan syetan. Akhirnya tawuran, pencurian, dan
hal lainya yang bersifat negative menjadi sasaran empuk bagi mereka para siswa
yang self controlnya hilang. Dalam kondisi yang labil ini pula tak jarang dari
mereka yang sampai menjadikan narkoba sebagai konsumsi setiap hari. Bermula
dari pergaulan mereka yang kurang baik, kemudian hanya sekedar ikut-ikutan
nongkrong bersama preman-preman yang akhirnya mereka juga tertarik untuk
sekedar mencoba barang-barang terlarang tersebut. yang paling kita saying kan
pada kaum remaja sekarang adalah pergaulan bebas mereka terhadap lawan jenis.
Mungkinkalau sekarang pacaran sudah menjadi budaya yang digemari oleh setiap
siswa SMA sederajat. Apalagi ketika mereka mencapai usia dewasa dan masa
puberitas. Hormone-hormon yang ada dalam setiap diri manusia ketika akan
semakin bertambah ketika masuk dalam fase ini. Makanya sudah menjadi hal lumrah
yang salah ketika pacaran menjadi momok utama para siswa usia 17 tahun keatas.
Yang jadi permasalahan besar adalh ketika pacaran ini ternodai oleh campur
tangan makhluk ketiga (syaiton). Berapa banyak siswa atau para remaja yang
berdomisili di kota-kota besar masih menyandang setatus perjaka ataupun
perawan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu riset dikota-kota
besar mengatakan, hampir sekitar serapo dari remaja usia puber yang dapat
dikatakan masih menjaga mahkota mereka. Dan sisanya?, Wallahua’lam… inilah yang
menjadi sebuah ironi besar dalam kehidupan remaja zaman sekarang.

